Showing posts with label Mbolang ke Thailand. Show all posts
Showing posts with label Mbolang ke Thailand. Show all posts

Tuesday, 2 June 2015

Pola Pikir Backpacker ~ Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Hidup backpacker!!! Hehehe

Tak terasa, sudah 4 tahun ane menyukai dan mencintai dunia backpacking. Dunia yang sangat menyenangkan, membuat ane mengerti arti hidup, membuat ane mempunyai tujuan serta mimpi-mimpi yang harus ane penuhi. Dari pelajaran di lapangan pas backpackeran ini, tanpa sadar ane mendapatkan pola pikir serta karakter di bawah ini gan. Pola pikir dan karakter yang ane tidak miliki sebelum kenal dunia backpacking. Bahkan di kehidupan sehari-hari, pas ane lagi nggak backpackeran, pola pikir dan karakter itu juga dengan sendiri teraplikasi. Ini dia gan:

1.       Nggak suka beli barang mahal kalau bukan untuk keperluan traveling
Nah ini dia gan yang ane paling rasain. Kalau untuk keperluan traveling, ane tu nggak segan, nggak eman, beli barang mahal. Yah mahalnya mahal standar ane ya, maks 350ribu buat tas ransel, maks 150ribu buat sepatu sneakers buat jalan haha. Karena ane pikir, “kalau ada yang murah kenapa harus mahal?”, “kalau ada yang gratis kenapa harus bayar?”. Tapi yang namanya beli barang untuk hal yang lain gan, misal sepatu buat kerja, baju buat kerja, ane rela beli diskonan yang murah aja di Plaza Blok M. Hahaha.

2.       Nggak suka beli makanan mahal
Saat backpackeran, apalagi di negara modern, salah satu yang paling ane tekanin untuk dihemat itu ya makan gan. Biasanya ane bawa pop mi, abon dan energen entah buat sarapan maupun makanan utama. Jadi nanti tinggal beli nasi aja. Kalaupun harus beli makan, biasanya ane pilih yang udah ada list harganya gan. Jadi ane bisa ngira-ngira bakal habis berapa. Nah prinsip ‘menghemat makan’ di backpackeran inilah yang membentuk karakter ane “nggak suka beli makanan mahal”. Tentu aja kalau pakai duit sendiri ya nggak sukanya, kalau dibeliin ma, mau makanannya jutaan juga ane mau hahaha.

Prinsip ini benar-benar teraplikasi waktu ane udah kerja si gan, ngekos di Jakarta. Widih, kalau lagi di kantor itu makan mahal gan apalagi kawasan Sudirman. Sekali makan kalau nggak ati-ati bisa habis 20-30ribu. Temen ane beli Soto Padang kena 30ribu. Males banget kan? Makanya ane selalu bawa bekal gan kalau ke kantor. Masak nasi di kos, lauknya beli di warung solo depan kos 3rebuan hahaha. Bukannya menyiksa diri, ane bisa beli, tapi entah kenapa sayang duit. Mending duitnya ditabung buat beli motor (target dekat ane supaya bisa travelingan seputar Jakarta), atau buat traveling itu sendiri.

3.       Bawa botol minum
Pas backpackeran, ane tu selalu bawa botol minum gan. Tujuannya apa? Ya ngirit. Apalagi donk hahaha. Jadi dengan bawa botol minum kan bisa refill gan. Misal di Singapore itu di Bandara Changi ada refill gratis, airnya dingin lagi seger banget. Kalau nginap di hostel/guest house biasanya ada air minum gratis juga gan untuk refill. Lumayan kan daripada setiap haus beli. Iya kalau murah, kalau di Singapore 1 botol air minum itu 1 sgd (9rebuan). Males kan? Hahaha.

Prinsip ini juga teraplikasi gan. Pas kuliah dulu di Jogja ane hampir selalu bawa botol minum. Kalau udah kebelet haus banget aja ane lagi mampir indomaret beli minuman rasa. Demikian juga pas kerja sekarang gan. Ane selalu bawa botol minum karena di kantor ada dispenser. Biasanya sebelum pulang ane penuhin juga botol minum ane, buat sangu di jalan pulang. Jalanan Jakarta keras gan, 5 kilo aja bisa 1,5 jam karena M.A.C.E.T jadi ya butuh bekal juga di jalan.



4.       Suka sesuatu yang gratisan
Dulu, sebelum mengenal dunia backpacking, ane memandang keluar negeri itu hanya sebagai mimpi gan. Tapi semenjak mengenal dunia backpacking, apalagi ada promo Air Asia bertebaran, ane memandang backpacking itu sebagai masa depan gan. Ane yakin kini backpacking bukan sekedar gaya hidup masyarakat menengah ke atas aja. Tapi semua bisa menikmatinya.

Ane masih ingat beberapa kali mendapatkan tiket super murah, bahkan ada yang Rp 0. Seinget ane, ane 3x pernah mendapatkan tiket Rp 0 gan. Yaitu dari Bandung ke Singapura, Jogja ke Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur ke Krabi. Gratisan yang lain itu kalau meraup brosur-brosur maupun peta dari bandara gan, refill air minum, ambil penginapan yang udah termasuk breakfast. Karakter ane ini teraplikasi di kehidupan nyata gan. Sekarang ini, ane suka banget kalau ada yang namanya promo

5.       Pengen wirausaha supaya bisa memiliki kebebasan waktu dalam traveling
Salah satu hal yang dikeluhkan para traveler adalah uang dan kebebasan waktu. Kita merasa, jika traveling pada masa kuliah (pas liburan semester maupun semester akhir), maka akan banyak watu, tapi nggak ada uang. Tapi jika traveling pas kerja, ada uang tapi nggak ada waktu. Hal inilah yang mendorong kita para traveler untuk memutar otak, apa yang bisa dilakukan supaya bisa punya uang dan waktu? Rahasianya ada di wirausaha.

6.       Menghargai adat dan budaya daerah/tempat lain, meskipun itu adat/budaya paling aneh sekalipun.
Seorang traveler, apalagi yang kawakan, tentu saja akan sudah melihat banyak hal di luar kebiasaan. Contohnya jika ke India akan melihat orang mandi di Sungai Gangga, melihat sapi-sapi klekaran di tengah jalan, melihat ular kobra menari-nari jika dimainkan beberapa nada dengan seruling, di Toraja melihat orang dimakamkan di batu dengan biaya mencapai puluhan juta, di Thailand melihat upacara pembersihan diri dengan cara membaringkan diri di peti mati, dan lain-lain. Semua hal yang kita lihat itu tentu saja akan membuka pikiran kita para traveler gan, dan pastinya kita akan menjadi manusia yang bisa menghargai budaya dari daerah lain.

7.       Suka Nulis atau merangkai foto
Dalam rangka mengenang perjalanan yang pernah ane lakukan, atau ekstrimnya dalam rangka pamer, ane jadi senang nulis ataupun merangkai foto gan sejak terjun ke dunia travelling. Ane merasa, dengan tulisan itu ane akan selalu bisa mengenang perjalanan ane.

8.       Sok fotografer
Dengan travelling, otomatis kita akan menjumpai beberapa bangunan ataupun pemandangan spektakuler yang kita Cuma sering lihat di internet kan gan. Saat melihat bangunan/pemandangan yang spektakuler tersebut, tentunya kita ingin mendapatkan foto yang sebagus dan semenarik mungkin. Sikap traveler ini juga terbawa di kehidupan sehari-hari gan, jadi sok fotografer gitu.



»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...

Sunday, 24 August 2014

[1] Sawadee Thailand...Akhirnya hari ini datang juga....

23 Januari 2012
Aku akan selalu mengingat tanggal ini. Tanggal dimana mimpiku akhirnya terwujud..Mimpiku untuk bisa menginjakkan kaki keluar negeri. Negara pertama itu adalah Thailand..This is my story in Thailand...

Setelah menunggu selama hampir 10 jam di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta karena antusiasme yang terlalu tinggi mau ke luar negeri pertama kali, akhirnya naik juga gue ke pesawat Air Asia yang bakal menerbangkan gue ke Bangkok. “Huaaahh”, hembusan nafas keras gue membarengi raungan pesawat yang mulai mengudara membelah langit malam Jakarta. Di dalam pesawat gue bersyukur, gue bersyukur berat akhirnya hari ini datang. Hari yang sudah gue tunggu selama hampir 6 bulan. Hari dimana gue akan menginjakkan kaki pertama kalinya di luar negeri, sesuatu yang sudah gue tunggu sejak SMP! J

Aku, menunggu dengan melasnya selama 10 jam di Bandara Soekarno Hatta. Sumpah, mie apah? Mi ayam? Wkwkwk

Penerbangan Jakarta-Bangkok berlangsung selama 3 jam, dan nggak ada yang melebihi rasa antusiasme gue saat pesawat Air Asia ini mulai merendahkan ketinggian membelah langit malam Bangkok. Saat itu gue bisa melihat kerlap-kerlip keemasan lampu Kota Bangkok. Sungguh senang rasanya hati ini, wajah tak hentinya menyunggingkan senyum. Pemandangannya begitu indah dan hati ini rasanya udah nggak sabar pengen cepat mendarat. Saat itu hanya rasa penasaran yang memenuhi benak gue, “Ya Tuhan, kayak apa ya luar negeri? Kayak apa ya Thailand?”

Pemandangan kerlap-kerlip malam Kota Bangkok dari pesawat. Sungguh indah.

Akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Saat itu kami cukup bingung. ‘Trus, apa yang harus kami lakukan? What’s next?’ Hahaha. Maklum, wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri.

Saat itu ada papan penunjuk transfer bus ke berbagai kota di Thailand, kontrol kesehatan, imigrasi, klaim bagasi, transfer dan visa on arrival. Karena setau kami kalau ke luar negeri itu harus bawa paspor dan nanti paspornya di cap, maka kami pun menuju ke imigrasi. Wealah, mau diapain di imigrasi nanti? Kami pasrah aja dan membawa paspor kosong kami dengan rasa sok tau.

Banyak petunjuk eh (papan dengan tulisan warna biru). Dua orang desa dari Solo ini pun bingung, wkwkwk.

Setelah menemukan imigrasi, kami pun segera mengantri untuk mendapatkan cap masuk Thailand di paspor. Disini gue membuat kesalahan besar, karena berdiri persis di belakang temen gue yang paspornya sedang di cap. Ternyata karena gue masih ndeso, gue nggak tau kalau garis merah itu batas buat antrian selanjutnya. Jadilah, ibu imigrasinya bilang “Please step backward behind the line” ke gue, Jiaaahhh......Malu banget sama antrian di belakang gue. Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi. Ternyata di imigrasi itu biasa aja. Kita Cuma ditanyain ada keperluan apa di Thailand, menyocokkan wajah dengan foto di paspor, cap masuk, habis itu capcus deh kami diperbolehkan masuk dengan gratis selama 30 hari di Thailand.

Imigrasi Thailand. Awalnya gue berdiri tepat di belakang temen gue dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....

Saat itu kami memang sudah booking penginapan bernama The Green House yang berlokasi di Khaosan Road. Konon, katanya Khaosan Road itu memang kawasan backpacker di Bangkok. Jadilah di sepanjang jalan kurang lebih 500 meter ini, kita bisa menemukan backpacker dari berbagai negara yang mengunjungi Thailand. Kami semakin tak sabar. Karena tidak ada transportasi umum yang murah dari bandara ke pusat kota, kami pun sharing taksi dengan seorang ibu dari Jakarta yang kami kenal di bandara Soekarno Hatta.

Saat perjalanan dari bandara ke pusat kota Bangkok itulah aku bisa benar-benar melihat luar negeri secara langsung. Ternyata begini, seperti ini. Salah satu hal yang unik adalah, di sepanjang jalan kami banyak menjumpai foto-foto raksasa Raja Thailand. Dengan menganut sistem pemerintahan monarki konstutisional, mereka memang sangat mengagungkan dan menyayangi rajanya. Aku belajar budaya baru itu untuk pertama kalinya disini. Kalau di negaraku, kebanyakan foto calon legislatif di jalan hahaha.

Setengah jam kemudian, sampailah kami di Khaosan Road dan inilah perjuangan sebenarnya karena kami harus mencari The Green House dari sekian banyak penginapan. Tapi hal itu justru membuat kami tambah bersemangat. Ternyata Khaosan Road meski sudah malam masih sangat ramai dan penuh dengan bule. Di sepanjang jalan banyak dijumpai penginapan, restoran, travel agen, 7eleven (supermarket internasional favorit backpacker), pedagang kaki lima, pedagang baju maupun layanan pijat. Pokoknya suasananya sangat hidup, santai dan backpacker abis. Aku benar-benar menikmati hari pertama di Bangkok ini.



Suasana malam Khaosan Road, kawasan backpacker paling terkenal di Bangkok. Cozy banget gan..

Setelah memutari Khaosan Road sampai ujung, kami tak jua menemukan penginapan kami. Mulai curiga, jangan-jangan penginapan abal-abal aja nih, mana udah kami booking. Bertanya kepada beberapa orang, ternyata penginapan kami itu tidak di Khaosan Road, tapi di seberang jalan Khaosan. Suasananya tidak kalah cozy, tetap ramai dan musik berdentam-dentam dengan kerasnya dari beberapa cafe yang berjajar. Kami pun segera masuk untuk mandi dan merebahkan badan.

Meskipun saat itu badan terasa sangat capek, tetapi suara musik yang berdentam-dentam di bawah seakan memanggil-manggil kami untuk bangkit dan jalan-jalan lagi. ‘We are in Thailand man, masak mau diisi dengan tidur aja?’ hehehe. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah 7eleven yang berada tidak jauh dari penginapan. 7eleven merupakan supermarket internasional yang berbasis di Amerika Serikat, dan barang-barang yang dijual memang kebanyakan kebutuhan backpacker gan. Harganya relatif lebih murah daripada beli di luar. Disini gue beli sisir dan air minum 1,5 L. Pergi jauh-jauh selalu lupa bawa sisir, klasik. Hahaha.

Kami pun melanjutkan petualangan lagi, saat itu dengan begitu banyaknya pedagang makanan khas Thailand di pinggir jalan, aku jadi penasaran bagaimana rasanya. Hal ini sempat memicu perdebatan dengan travelmate, karena dia tidak mau coba, tapi gue paksa dan paksa, akhirnya mau juga. Saat itu kami pesan toum yam soup udang.

Toum Yam Soup Udang...

Melihat kenampakan toum yam soup untuk pertama kalinya, gue yakin banget kalau makanan ini sepertinya enak. Tapi setelah dirasakan kuahnya, Astofiruloh aseeeem n sengak banget gan. Kami yang orang Jawa terbiasa dengan makanan manis malah akhirnya nggak doyan dan makan udangnya aja. Haha, dasar. Emang siapa suruh aneh-aneh? Akhirnya travelmate menyerah baik dengan udang maupun kuahnya, dan gue yang harus menghabiskan sendirian. Akhirnya karena nggak enak dengan travelmate, gue yang bayar toum yam soup-nya. Hahaha, kapok dah beli ini.


Setelah selesai makan dan mengitari Khaosan Road lagi sejenak untuk foto-foto, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat. Bukan perkara mudah untuk tidur dengan begitu kerasnya suara musik di bawah. But we’re in vacation. That’s not problem, isn’t it? J
»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...