Showing posts with label Mbolang ke Filipina. Show all posts
Showing posts with label Mbolang ke Filipina. Show all posts

Sunday, 15 November 2015

[3] FILIPINA TRIP: Akhirnya ketemu Fort Santiago!

Keesokan harinya, ane bangun pagi dengan cukup semangat gan. Setelah mandi dan membereskan tempat tidur (maklum kamar dorm harus rapi jaim sama yang lain), ane pun segera melangkahkan kaki keluar penginapan. Pagi itu sempat diawali dengan ane kesasar saat mau menuju stasiun LRT, padahal hari sebelumnya udah hafal jalan. Haha, beginilah ane, selalu eror dan eror, makanya ane berjanji nggak akan solo traveling lagi. Kurang asyik gan menurut ane, nggak ada yang bisa diajak cerita, ngrasani, nggak ada yang dimintain tolong untuk jagain tas pas ke kamar mandi, nggak ada yang disuruh motoin, nggak ada yang disalah-salahin , nggak ada yang diajak ngakak bareng hahahaha.
Kenampakan Friendly Backpacker Guest House


Jollibee tempat makan favorit ane di Filipinna

Ane akhirnya berhenti di sebuah restoran fast food bernama Jollibee (khas Filipina) dan memutuskan untuk sarapan disitu. Diawal sudah ane bilang kalau orang Filipina itu wajahnya mirip banget gan sama orang Indonesia, sehingga kalau antri makanan fast food ane selalu diajak ngomong Tagalog. Tapi mereka sangat sopan dan menghargai aku banget gan setelah ane menjelaskan kalau ane tidak sepik Tagalog.
"Oh, Im sorry. I though you're Filipino."

Saat itu ane pesan nasi ayam, spageti dan cola, habis 120 peso tapi sangat enak dan mengenyangkan. Sebuah permulaan sempurna untuk hari yang panjang dan banyak target. Hari ini memang ane berencana mengunjungi beberapa tempat sekaligus, dan berjanji tidak akan sampai kena tipu atau scam lagi. Sudah cukup! Ketegasanku sebagai backpacker harus ditingkatkan.

Sesuai petunjuk peta, ane pun kembali naik LRT dari Stasiun Querreno ke Stasiun Carriedo untuk menuju Fort Santiago. Sampai di Stasiun Carriedo, ane kembali menyusuri rute seperti kemarin tetapi mengambil persimpangan yang lain. Jujur ane penasaran banget gan sama Fort Santiago. Akhirnya di persimpangan Rizal Park, ane pun tanya sama bapak-bapak jalan menuju Fort Santiago. Nama Bapak tersebut Carlito. Dia mengatakan tidak jauh dan akan mengantarkan ane ke perempatan terdekat. Katanya untuk menuju Fort Santiago ane harus menuju kawasan Intramuros dulu. Ane awalnya takut gan, karena muka Carlito itu serem, takut diseret ke tempat sepi terus….terus….huaa aku nggak mau solo traveling lagi.

Ternyata setelah sampai persimpangan jalan, Carlito  benar-benar menunjukkan jalan ke Intramuros, kemudian meninggalkan ane. Haha, merasa bersalah karena udah berpikiran buruk padahal Carlito itu baik bahkan malah sekarang jadi teman FB ane. Ane pun segera mengikuti arahan dari Carlito yang bahasa Inggrisnya agak belepotan, sehingga ane juga menggunakan feeling. Mengikuti petunjuk Carlito, kok ane nggak menjumpai kota tua Intramuros ya? Setau ane Intramuros itu dikelilingi sama tembok-tembok tinggi, tua dan tebal, kok ini malah bagian Kota Manila yang modern gitu? Kayaknya salah jalan ni.
Duh...kemana ini?

Saat sedang puter-puter nggak jelas, tiba-tiba entah keajaiban apa 1:1000 ane ketemu lagi sama CarlitoCarlito pun terlihat kaget sekaget ane juga. Tapi setelah berbasa-basi sejenak, ane pun kembali diantarkan Carlito ke Intramuros. Ternyata ane salah mengambil persimpangan. Hehehe, makasih ya Carlito.

Akhirnya dengan pertolongan 2x Carlito, ane pun sampai juga di gerbang Intramuros gan. Kata Intramuros itu sendiri berasal dari Bahasa Latin yang artinya “di dalam tembok” merupakan distrik tertua dan kawasan pusat sejarah Manila. Intramuros merupakan Kota Manila yang asli, yang berfungsi sebagai tempat kedudukan pemerintah saat Filipina masih dikuasai oleh Spanyol. Oleh karena itu, distrik di luar Intramuros sering disebut Extramuros yang artinya “Di Luar Tembok”.
Pemandangan sekitar Intramuros

Pembangunan Intramuros ini sendiri dimulai oleh pemerintah kolonial Spanyol pada akhir abad 16 untuk melindungi Kota Manila dari invasi negara luar. Kota seluas 0,67 kilometer persegi ini awalnya berlokasi di sepanjang pesisir Teluk Manila, sebelah selatan Sungai Pasig. Reklamasi lahan selama awal abad 20 ini obscured tembok dan benteng dari teluk. Intramuros sendiri mengalami kehancuran hebat selama pertempuran untuk memperebutkan kembali kota dari Kependudukan Tentara Jepang selama Perang Dunia II. Pembangunan kembali dinding-dinding yang hancur dimulai tahun 1951 ketika Intramuros dinobatkan sebagai Monumen Sejarah Nasional, yang masih berlangsung sampai saat ini oleh Intramuros Administration (IA).
Pemandangan kawasan sekitar Intramuros

Karena Intramuros itu cukup luas gan, lagi-lagi ane merasa kesulitan menemukan Fort Santiago. Sumpah, ane penasaran banget sama benteng ini kok susah banget nyarinya. Akhirnya ane mengunjungi destinasi wisata pertama dulu yang berupa benteng juga. Ane sendiri kurang tau benteng ini namanya apa, yang jelas lokasinya hanya beberapa saat setelah masuk gerbang Intramuros. Pada bagian pintu masuk terdapat penjaga dengan seragam biru. Tidak ada pemeriksaan apapun sehingga ane dapat langsung masuk. Untuk masuk kesini gratis.
Salah satu benteng di dalam Intramuros

Benteng ini terdiri dari 2 tingkat. Di bagian bawah terdapat taman-taman yang ditata dengan indah, ada juga penjara sempit (yang ane duga digunakan Spanyol untuk memenjarakan pemberontak Filipina yang menginginkan negara itu merdeka), serta lorong-lorong dengan batu yang disusun gaya busur melengkung khas bangunan Eropa.
Salah satu benteng di dalam Intramuros

Ane pun melanjutkan perjalanan ke tingkat atas. Di bagian atas hanya terdapat sebuah halaman dengan highlight pemandangan benteng dan pemandangan sebagian Intramuros . Kurasa fungsinya dibangun 2 tingkat adalah untuk mengawasi keadaan sekeliling gan, pas zaman penjajahan dulu. Karena lokasi benteng ini yang cukup dekat dengan Universitas Manila, ane banyak menjumpai mahasiswa/i yang lagi nongkrong asik disini. Sempet malu juga si waktu jalan di depan mereka hahaha. Ane juga sempat bersantai dulu sesaat karena kaki yang mulai sakit lagi, terlalu banyak berjalan sejak di Singapura, sampai benar-benar mau mati rasanya.

Menyerah mencari Fort Santiago dengan berjalan kaki, akhirnya ane pun memberanikan diri naik Cycle Rickshaw lagi. Tapi kali ini ane menyebutkan dengan jelas Fort Santiago dan meminta kejelasan harga tarif dari awal. Setuju dengan harga 30 peso, ane pun benar-benar diantarkan ke Fort Santiago. Ternyata lokasinya nyempil banget dan di pojokan, pantas aja susah ketemu. Tiket masuk ke Fort Santiago ini seharga 250 peso. Begitu masuk, ane langsung disuguhi dengan lagu klasik Spanyol yang mengalun merdu dengan deretan kereta kuda yang berjajar di sepanjang pinggir benteng menunggu penumpang. Suasana yang sangat klasik.
Hehehehe...Fort Santiago, I Got 'ya!

 Fort Santiago yang dalam Bahasa Spanyol disebut Fuerte de Santigo, dalam Bahasa Tagalog Moog ng Santiago merupakan benteng pertama yang dibangun oleh penakluk Spanyol bernama Miguel López de Legazpi untuk mendirikan kota baru ManilaBenteng pertahanan merupakan bagian dari struktur kota Manila yang disebut sebagai Intramuros ("di dalam dinding").

Benteng ini merupakan salah satu situs sejarah yang paling penting di ManilaBeberapa orang meninggal dalam penjara selama Masa Kolonial Spanyol dan Perang Dunia IIJosé Rizalpahlawan nasional Filipinadipenjarakan di sini sebelum eksekusi pada tahun 1896. Museum Rizal Shrine menampilkan memorabilia dari pahlawan dan fitur bentengtertancap ke tanah perunggujejak kaki Jose Rizal mewakili jalan kaki terakhirnya dari selnya ke lokasi eksekusi yang sebenarnya di Rizal Park.
Bagian luar Fort Santiago

Pembangunan Benteng Santiago membutuhkan waktu selama 3 tahun dari 1590 sampai 1593, kemudian dilakukan renovasi tahun 1733. Benteng ini dinamai Saint James the Great (di Argentina disebut Santiago) yang merupakan Santo pelindung Spanyol. Benteng Santiago terletak di mulut Sungai Pasig dan merupakan benteng pertahanan utama Pemerintah Spanyol selama kolonialisme mereka. Benteng Santiago juga menjadi benteng utama untuk perdagangan rempah-rempah ke Amerika dan Eropa selama 333 tahun. Salah satu sumber yang tidak diketahui juga menyebutkan bahwa Perdagangan Manila Galleon ke Acapulco, Meksiko juga berawal dari Benteng Santiago.

Saat itu susasana Benteng cukup sepi sehingga ane bisa menikmati pemandangan dengan cukup leluasa. Begitu masuk ane disuguhi dengan jajaran kereta kuda bermotif kuno, taman-taman yang tersusun rapi, patung diorama Jose Rizal dan beberapa pejuang revolusi lainnya, serta hutan bambu. Selain itu juga ada meriam dan peluru sisa Perang Dunia II. Benar-benar tempat yang penuh sejarah gan.
Gerbang masuk Benteng Santiago

Berjalan lebih jauh ke dalam, ane akhirnya menjumpai gerbang masuk Benteng Santiago. Gerbang ini berupa benteng batu dengan ketinggian mencapai 15 m, di sekelilingnya berupa tembok batu yang tebal. Di depan gerbang terdapat kolam yang dipisahkan oleh jalan masuk ke arah benteng pada bagian tengahnya. Menurut keterangan dibawah gerbang, gerbang Benteng Santiago ini dibangun bersama dengan barak militer tahun 1741, kemudian hancur oleh Pertempuran Manila tahun 1945. Administrasi Intramuros kemudian memperbaiki gerbang ini pada Juli 1982.
Pemandangan di dalam Fort Santiago

Pemandangan di dalam Fort Santiago

Memasuki Gerbang Benteng Santiago ini, pemandangan pertama yang terlihat berupa tembok batu lagi yang terlihat sedikit hancur disana-sini. Setelahnya terdapat taman dengan patung Jose Rizal pada bagian tengahnya. Bisa dibilang, bagi masyarakat Filipina, Jose Rizal merupakan Bapak Negara mereka. Seperti Bapak Soekarno bagi masyarakat Indonesia. 

Bagian dalam Benteng Santiago ini terdiri dari dua tingkat gan, setelah melihat dari tingkat dua, bangunan tingkat 1 didominasi oleh ruangan kotak-kotak luas yang sepertinya merupakan ruang pertemuan. Selain itu juga terdapat ruangan kotak sempit yang bagi ane terlihat seperti penjara gan. Pada bagian lantai 1, terdapat jejak kaki Jose Rizal yang dibuat dari semacam kuningan. Jejak kaki tersebut dinamakan 'The Last Walk' yang menandakan rekam jejak kaki terakhir Jose Rizal dalam perjalanannya dari Benteng Santiago sebelum dieksekusi di Rizal Park.

Pemandangan di dalam Fort Santiago

Pada lantai 1 juga terdapat semacam museum yang dinamakan 'The Rizal Shrine', museum ini berisi barang-barang peninggalan Jose Rizal gan. Tapi karena pas ane kesana museum belum buka (baru buka jam 1 siang, sementara saat itu baru jam 12), ane urungkan niat dan berkeliling bagian lain dari Benteng Santiago.

Pada salah satu sudut dekat pintu keluar, ane jumpai juga meriam-meriam yang digunakan saat perang gan. Meriam itu terdiam dengan gagah, seakan tak mau lagi mengulang sejarah peperangan. Selain itu juga terdapat peluru sisa perang yang berukuran cukup besar (bayangkan, satu peluru bisa berukuran sampai 50 cm). Selain itu terdapat jangkar kapal yang terlihat sangat tua dan berkarat. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan saat itu, penuh perang, ledakan, serta tangisan. 
Peluru, meriam dan Jangkar peninggalan perang

Selesai mengelilingi seluruh bagian Fort Santiago, ane keluar dan mampir ke 7-eleven. Di Filipinna, 7-eleven-nya nyaman banget gan buat nongkrong sambil makan siang. Setangkup donat dan segelas minuman ringan dingin dengan lancar masuk ke kerongkongan ane. Memang saat itu Filipinna sedang dilanda musim panas. Begitu terik dan membuat tubuh cepat kehilangan air.

Berjalan kaki kembali tanpa arah, ane tiba-tiba menemukan Manila Cathedral. Manila Cathedral ini bisa dibilang merupakan salah satu gereja tercantik di Manila gan. Gereja ini dibangun menggunakan batubata berwarna kuning kecoklatan dengan gaya bangunan Eropa yang semakin menambah kesan kuno. Pada bagian samping atas pintu kubah terdapat ukiran patung beberapa Santo sehingga menambah kesan cantik sekaligus misterius. Pada bagian paling atas, terdapat jam dan lonceng yang diselimuti oleh kubah.
Gagahnya Katedral Manila

Sepanjang sejarahnya, gereja ini diketahui hancur 7 kali baik oleh sebab alam (gempa bumi, angin tofan) maupun sebab buatan (Perang Manila dan Kebakaran). Katedral Manila yang sekarang ini berdiri merupakan bangunan kedelapan di situs ini gan. Gereja pertama yang terbuat dari nipa dan bambu dibangun pada tahun 1571, kemudian terbakar pada 1583. Katedral kedua dibangun dari batu dan semen pada 1591, kembali hancur oleh gempa bumi pada 1599 dan 1600. Katedral ketiga dibangun pada 1614, dihancurkan oleh gempa bumi pada tahun 1621 dan 1645. Katedral keempat dibangun pada tahun 1654-1681, dihancurkan oleh angin topan dan gempa bumi tahun 1751.
Katedral Manila

Katedral kelima diresmikan pada 1760, sempat direnovasi pada 1850 tetapi kembali dihancurkan oleh gempa bumi pada 1863. Katedral ketujuh diresmikan pada 1879, beberapa hancur karena gempa bumi tahun 1880 ketika bagian loncengnya runtuh, selanjutnya hancur total pada 1945 karena adanya Pertempuran Manila. Katedral yang sekarang ini dibangun pada 1953-1958. Dinaikkan kelasnya menjadi Basilika Minor oleh Pope John Paul II pada 1981 dan secara resmi dinamakan Basilica of the Immaculate Conseption. 

Selesai mengelilingi dan menfoto Katedral Manila, ane sempat duduk mengistirahatkan kaki di salah satu sudut taman. Sungguh trip tiga negara ini telah membuat kaki ane kepayahan gan, hehehe, maklum sebelumnya nggak pernah jalan kaki jauh tiba-tiba langsung dipaksa begini.

Selesai beristirahat, ane beranjak naik cycle rickshaw seharga 30 peso untuk menuju tujuan terakhir hari ini yaitu Gereja San Agustin. Menurut keterangan yang ane baca, terdapat museum yang cukup bagus dan lengkap di dalam gereja. Ane pun segera masuk ke museum dan membayar 100 peso. Masuk ke dalam Gereja San Agustin boleh membawa kamera, tapi waktu di dalam museumnya dilarang gan.
Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Waktu itu kebetulan di gereja lagi ada nikahan gan, suasananya terasa khidmat. Gereja ini sendiri seperti gereja yang ada di Eropa kebanyakan, mempunyai interior yang cantik dan kubah yang cukup tinggi.  Kubah tersebut disangga oleh beberapa pilar tinggi dengan hiasan yang cantik. Selain itu lampu gantung juga menambah suasana semakin cantik serta khidmat. Selain itu di bagian belakang terdapat patung beberapa santo seperti St. Thomas, St.Augustin  dan patung Tuhan Yesus di dalam sebuah box kaca. Kesemuanya ini boleh difoto gan.
Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Suasana di dalam Gereja Xt. Xavier

Selesai menfoto interior gereja, ane segera menuju Museum yang merupakan spot wisata utama dari Gereja San Agustin. Untuk masuk ke museum ini membayar 100 peso. Museum ini sendiri berisi barang-barang gerejawi yang meskipun berusia kuno, tapi masih terlihat terawat dan bersih. Selain itu terdapat lukisan-lukisan, patung, juga makam yang di dalam tembok.  Saat itu suasana sepi banget gan, hanya ada beberapa turis yang ane jumpai. Bulu kuduk ane mulai merinding, apalagi kalau harus berjalan di tingkat dua yang sepi dan gelap. Akhirnya karena nggak tahan, ane nggak kelilingin seluruh koleksi tingkat dua. Huhuhu, butuh travelmate.

Puncak ketakutan ane muncul pas sampai di spot makam tembok. Sebenarnya sejak awal lihat dari jauh, ane sudah ragu karena saat itu tidak terlihat turis lain yang mau masuk kesitu juga. Tapi dengan tekad kuat untuk mengalahkan ketakutan, ane paksa untuk masuk ke ruangan makam tembok itu. Shhhhhh....sungguh mengerikan gan. Apalagi saat itu suasana sangat sepi, hanya sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kecil jendela raksasa. Ane merasa sedang dikelilingi oleh mayat, karena bentuk makam tembok ini adalah kubus dengan pintu masuk kecil. Tidak sampai ane 5 menit disini sudah keluar lagi hahaha.
Secara keseluruhan, ane membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mengelilingi seluruh bagian Museum Gereja San Agustin ini gan. Museum ini sendiri cukup luas dan koleksinya cukup banyak. 90 % berisi barang-barang gerejawi.

Selesai menjelajah Gereja San Agustin, ane pun melangkahkan kaki ke stasiun LRT terdekat untuk kembali ke penginapan. Jujur hari ini puas sekali karena berhasil mengunjungi beberapa tempat wisata utama sekaligus. Tak lupa ane jajan makanan jalanan Manila yang rasanya seperti pempek berbentuk koin logam dan bundar dan beli makan malam fast food di lokasi makan pagi tadi. 
Jajanan Favorit :)

Ada sedikit cerita 'hampir celaka' gan, bahkan sampai sekarang kalau ane ingat masih kerasa merinding aja. Ceritanya sehabis jajan pempek Manila itu, ane memutuskan akan menikmatinya sembari duduk di pinggir jalan karena kaki yang kelalahan. Sewaktu selesai makan dan akan menyeberang jalan, ane benar-benar lupa kalau Filipinna itu nyetirnya di sebelah kanan jalan. Bisa ditebak, karena terbiasa dengan sistem nyetir di Indonesia yang di kiri jalan, ane nengok sebelah kanan jalan sebelum menyeberang. Karena melihat tidak ada kendaraan yang akan lewat, ane dengan santainya menyeberang. 

Kemudian, "TIIIIIIIINNNNNNNNN...................."

Jeepney berkecepatan sedang hampir aja nabrak ane gan dari kiri jalan. Huaahhhh, tak terhitung berapa kali ane bersyukur Tuhan masih menyelamatkan ane dari kecelakaan gan. Untung aja supir jeepney nggak marah sama ane, malah senyum-senyum. Hmmm, terimakasih Tuhan masih menyelamatkan ane.....

Day 2 MISSION COMPLETED!!
»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...

Tuesday, 25 August 2015

[2] FILIPINA TRIP: Kota Manila yang amazing sampai kena SCAM dokar 40 USD!

Tengah hari, sekitar jam 12 siang akhirnya ane bangun dan siap untuk menjelajah Kota Manila. Kota Manila ternyata seperti ibukota negara kebanyakan yaitu kota yang cukup semrawut dengan penduduk yang cukup banyak, agak kumuh, dan pedagang kaki lima ada dimana-mana. 

Pemandangan Kota Manila dari berbagai sudut kota.

Setelah mandi, gue pun segera melangkahkan kaki keluar penginapan dan landmark pertama yang ane lihat adalah patung Marcelo H. Del Pilar gan, seorang revolusioner kemerdekaan Filipina yang hidup dari 1850-1896. Menurut keterangan di bawah patung, pada zaman keemasannya dulu, dia adalah seorang penulis dan jurnalis yang brilian gan yang sangat menentang Kolonialisme Spanyol di Filipina. Di Filipina ini memang pahlawan revolusioner dihormati banget gan, sepanjang jalan Manila ane banyak banget menjumpai patung-patung pahlawan dengan keterangan riwayat hidupnya di bawah. Hal ini mirip dengan Thailand, dimana mereka sangat menghormati rajanya sehingga banyak dijumpai foto-foto Raja Thailand dengan bingkai besar di jalan.
Patung Marcelo H. Del Pilar di Distrik Makati.

Setelah memberikan penghormatan singkat di dalam hati untuk Marcelo H.Del Pilar, ane pun kembali melangkahkan kaki di jalanan Manila tepatnya Distrik Makati ini. Kali ini tujuan ane adalah makan siang dengan makanan lokal Filipina. Setelah membaca buku panduan jalan di Filipina karangan Sihmanto yang menerangkan bahwa makanan lokal Filipina itu enak dan murah, ane jadi pengen mencoba. Langkah kaki ane pun berhenti di sebuah warung makan nasi rames kecil. Dengan bahasa tarzan karena si empunya nggak bisa bahasa inggris, ane pun mendapatkan nasi sayur, pritilan ayam dan air minum seharga 40 peso (Rp 8000) aja gan. Murah banget, dan yang bikin ane kaget, citarasa masakan Manila itu mirip banget gan sama Indonesia. Enak dan berbumbu, ane jadi merasa nggak di luar negeri. Tapi bagi yang Muslim, harap hati-hati ya gan. Karena penduduk mayoritas Kota Manila beragama Katholik, cukup banyak yang menjual daging babi.
Manila nyetirnya di sebelah kanan gan.

Selesai makan ane segera melangkahkan kaki ke Stasiun LRT terdekat untuk memulai petualangan menjelajah Manila. Disini ane baru tau kalau orang Filipina itu nyetirnya di sebelah kanan, hmmm jadi kerasa kek di Sepanyol aja gan. Karena tujuan ane yang pertama adalah Fort Santiago, setelah melihat peta LRT sejenak ane merasa harus naik LRT dari  Stasiun Quirrino Avenue (tempat gue sekarang) ke Stasiun Carriedo. Namanya Spanish banget ya gan, ane nyebutinnya sampai gimana-gimana gitu wkwkwkwk.

Sampai di Stasiun Carriedo ane bingung gan. Ini harus ngapain ya? Aduh, ane harus ngarah kemana ya? Sumpah kagak ada petunjuk apa-apa gan. Kebingungan ane itu terjawab saat ane melihat kerumunan pasar gitu di bawah. Sepertinya menarik. Ane pun segera turun untuk melihat-lihat barang apa saja yang dijual. Ternyata 11-12 sama Sunmor gan (pasar mingguan kampus UGM). Barang yang dijual itu berupa  pakaian, sepatu, buah-buahan segar, pernak-pernik, VCD, kelapa, kapur barus, dan lain-lain. Kapur barus? Iya gan. Ada yang jual kapur barus dan itu diiderkan pakai tampah. Ane pengen beli gan sebenarnya, ane kasian gan sama yang jual kapur barus soalnya kek belum ada yang beli. Tapi ane urungkan dan membeli VCD lagu-lagu Filipina gan. Barang-barang disini murah-murah juga gan, karena memang berfungsi sebagai pasar rakyat.

Pasar rakyat murah meriah di bawah Stasiun LRT Carriedo.

Di ujung pasar, akhirnya ane menemukan salah satu landmark Kota Manila yang ane incar yaitu Gereja Quaipo. Gereja Quaipo ini nama lainnya Minor Basilica of the Black Nazarene dan Saint John the Baptistdinamakan begitu karena terdapat patung suci Black Nazarene di dalamnya. Black Nazarene ini merupakan patung Yesus Kristus memikul salib yang dipahat dari kayu berwarna coklat gelap, dipahat pada abad 17 oleh seniman Meksiko yang tidak diketahui namanya. Patung ini sendiri didatangkan via galleon dari Acapulco, Meksiko pada pertengahan abad 16.
Gereja Quiapo a.k.a Minor Basilica of the Black Nazarene.

Patung Black Nazarene di dalam Gereja Quiapo.

Patung Yesus Kristus ini sangat terkenal di Filipina dan dianggap menakjubkan oleh banyak penganut Khatolik di Filipina. Terdapat beberapa tanggal tahunan dimana patung ini dibawa ke publik untuk pemujaan yaitu Tahun Baru (hari pertama dari Novena); Jumat baik (Good Friday); dan 9 Januari (hari transfer Minor Basilica dari lokasi asalnya di Rizal Park ke lokasi sekarang). Prosesi 9 Januari ini bisanya paling besar dari dua prosesi yang lain gan.
Patung Black Nazarene dibawa ke publik untuk pemujaan.

Sejarah Gereja Quaipo ini sendiri cukup panjang gan. Gereja ini pertama kalinya dibangun oleh Misionaris Fransiskan dengan hanya menggunakan bambu dan jerami. Perjuangan Misionaris Fransiskan tersebut membangun gereja harus sia-sia karena pada 1574, Limahong dan tentaranya menghancurkan dan membakar gereja ini. Bertahun-tahun melihat rumah Tuhan hanya teronggok rusak, pada 1588 seorang biarawan Fransiskan, Fr. Antonio de Nombella mendirikan kembali gereja ini dengan nama Parish of St. John the Baptist, prekursor Yesus Kristus yang memanggil setiap orang untuk bertobat sebelum menerima Yesus. Tapi lagi-lagi, gereja ini kembali dibakar pada 1603 sehingga paroki sementara diserahkan ke Jesuit sampai keadaan stabil kembali. Gubernur Jenderal Santiago de Vera memprakarsai pembangunan kembali gereja ini secara penuh pada 1686.

Pada 1762, Inggris berusaha menghancurkan gereja ini. Kehancuran sekali lagi harus terjadi akibat gempa bumi pada 1863. Pada 1879, Pendeta Eusebio de Leon memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dan diselesaikannya dengan bantuan Pendeta Manuel Roxas pada 1889 menggunakan sumbangan dari berbagai pihak. Pada 1928, Gereja ini kembali hancur karena kebakaran yang menghancurkan langit-langit kayu dan sakristi di belakang altar utama.
Kenampakan bagian dalam Gereja Quiapo.

Kehancuran terus menerus baik karena sebab manusia maupun alam tersebut tidak menyurutkan niat Fr. Magdaleno Castillo untuk memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dari awal. Rekonstruksinya adalah berdasar rencana konstruksi yang disiapkan oleh Arsitek Juan Nakpil pada 1933. Dia menambahkan kubah dan menara lonceng di kedua sisi gereja. Arsitek Jose Maria Zaragoza memperbesar gereja dan membangun desain dinding lateral pada 1984. Perjuangan tersebut tidak sia-sia karena pada 1988 gereja ini dianugerahi gelar Basilika dari Nuestro Padre Yesus, Nazareno.

Saat itu di Gereja Quaipo lagi ada misa gan, dan ane dengan gejenya masuk dan mengikuti misa sejenak meski nggak ngerti sama sekali karena menggunakan Bahasa Tagalog. Pas itu banyak banget gan warga sekitar yang ikut misa sampai gedung bagian dalamnya nggak cukup sehingga beberapa mengikuti misa di luar gedung. Ane merasa sangat kusyuk gan saat misa disini, dan ane merasa warga Manila itu religius banget gan. Setelah berdoa sejenak, ane pun meninggalkan gereja ini untuk melanjutkan petualangan menemukan Fort Santiago.
Waktu ane datang lagi ada misa gan, ini kenampakan bagian samping Gereja Quiapo dari Plaza Miranda.

Oya, pelataran di depan Gereja Quaipo seluas 5358 m2 itu disebut Plaza Miranda gan. Hal itu dijelaskan dari tugu-tugu kecil yang berdiri di sekeliling gereja. Plaza Miranda merupakan lapangan umum yang dikelilingi oleh Gereja Quaipo di sebelah utara, Quezon Boulevard di sebelah timur, Hidalgo Street di sebelah selatan dan Evangelista Street di sebelah barat. Plaza Miranda ini dilantik dan dibuka oleh Mayor Arsenio Lacson pada 1961. Nama 'Miranda' didapat dari Jose Sandino y Miranda, yang menjabat sebagai sekretaris bendahara Filipina pada 1833 dan 1854.
Plaza Miranda.

Plaza Miranda ini dilapisi oleh ubin dari granit dan dikelilingi oleh arsitektur Neo-Gotik detail yang terinspirasi oleh arsitektur Gereja Quaipo. Arsitektur ini tercermin di bagian barat  dan selatan plaza, dimana terdapat dua gerbang besar yang dipisahkan oleh beberapa gerbang kecil berbentuk busur membentuk tiang tertutup. Selain Gereja Quaipo, di Plaza Miranda ini juga terdapat beberapa landmark lain seperti F&C Tower (sebelumnya Gedung Picache yang sebelumnya merupakan markas Bank Tabungan Filipina dan Teater Times yang merupakan salah satu bioskop tertua di Manila.

Setelah foto-foto sejenak, ane segera melangkahkan kaki di riwetnya lalu lintas Manila. Perjalanan ane yang tanpa arah dan tujuan ini menghantarkan ane ke kawasan kumuh di sepanjang Sungai Pasig gan. Ane sendiri nggak tau, setelah berjalan melewati pasar kok tiba-tiba bisa berada di bawah jembatan ya? Ane pun langsung berhenti dan tanya sejenak ke mbak-mbak yang jaga warung kecil. Ane menanyakan jalan ke Rizal Park, dan untungnya mbaknya bisa bahasa Inggris. Ane disuruh naik lewat jembatan di depan dan naik jeepney ke arah Kalaw.

“Kalaw hatiku mendua…ku tak tau harus gimana.”


Hilang arah lagi gan, hanya melihat Sungai Pasig dengan latar belakang gedung-gedung khas ibukota.

Sampai di atas ane kembali bingung gan. Pemandangan di depan ane berupa sebuah sungai luas (Sungai Pasig) dengan latar belakang gedung-gedung tinggi khas ibukota. Ane harus kemana lagi? Walaupun kebingungan, ane kembali melangkahkan kaki dan berharap menemukan seseorang yang bisa ditanyai. Beberapa saat berjalan, akhirnya ane ketemu seorang bapak-bapak yang lagi makan. Bapak tersebut mengatakan ane harus naik jeepney ke Baclaran untuk bisa mencapai Rizal Park. Dengan petunjuk singkatnya, ane pun segera naik jeepney dan berusaha duduk sedekat mungkin dengan supir untuk memberinya petunjuk suruh menurunkan ane di Rizal Park.
Jeepney khas Filipina.
Sewaktu di dalam Jeepney itu, ane belajar salah satu budaya orang Filipin gan yaitu oper-operan untuk bayar ongkos. Biasanya kalau mau bayar, mereka akan omong ‘bayad’, kemudian menyerahkan uang logam ke penumpang di sampingnya. Nanti penumpang yang nerima uang tadi akan mengoperkannya lagi ke penumpang di sampingnya sampai uang itu diterima Pak Sopir di depan. Ane yang lagi-lagi sok-sokan pun ikut-ikutan ngomong ‘bayad’ n ngoperin duit hehehe. Ongkos sekali naik jeepney ini 8 peso gan. Sekitar 10 menit berkendara, ane sampai juga di Rizal Park gan. Rizal Park ini lokasinya ada di Roxas Boulevard, Ermita, Manila. Ane masuk melalui Kalaw St.
Rizal Park.

Rizal Park yang dalam Bahasa Tagalog disebut Liwasang Rizal, merupakan salah satu taman bersejarah di Filipina gan. Sejak Era Kolonialisme Spanyol, taman ini telah menjadi salah satu taman kota terbesar di Asia. Masyarakat lokal biasa mengunjungi taman ini untuk bersantai pada hari Minggu ataupun libur nasional. Kenapa sebelumnya ane sebut taman bersejarah? Karena ternyata eksekusi pahlawan nasional, Jose Rizal, pada 30 Desember 1896 itu dilakukan disini gan. Eksekusi tersebut tentulah menimbulkan kemarahan yang luar biasa gan bagi masyarakat Filipina, akhirnya berhembuslah semangat Revolusi Filipina pada 1896 melawan Kerajaan Spanyol. Selain itu, deklarasi kemerdekaan Filipina dari Kependudukan Amerika juga dilakukan di taman ini gan pada 4 Juli 1946. Karena itulah taman ini dinamakan Rizal Park untuk menghormati dan menghargai Jose Rizal, salah satu pahlawan nasional mereka gan.
Central Lagoon Dancing Fountain.

Masuk pertama kali, landmark yang paling kelihatan adalah central lagoon dancing fountain yang merupakan kolam dengan air mancur berbentuk melingkar dan kursi taman di sepanjang pinggiran kolam sehingga suasananya asri banget gan. Salah satu yang bikin ane tambah kagum, saking mereka menghormati pahlawan revolusionernya, di sepanjang pinggiran kolam ada banyak patung pahlawan Filipina gan dengan riwayat hidupnya secara singkat di bagian bawah. Di pinggir kolam sebelah utara juga ada auditorium terbuka jika ada acara-acara tertentu. 
Patung pejuang kemerdekaan Filipina yang berada di sebelah utara kolam.

Boneka semacam ondel-ondel yang ane jumpai di Rizal Park.

Terus waktu itu lagi ada acara karena banyak tenda-tenda dan boneka raksasa kayak ondel-ondel gitu gan. Kalau ane baca flyer di jalan sih, lagi ada peringatan 29 tahun meninggalnya Gubernur Kota Manila gan, namanya Senator Benigno Aquino Jr. Ane udah bilang di awal kan gan, kalau mereka sangat menghormati pahlawan atau orang-orang yang pernah mempunyai jasa untuk Filipina, jadi jangan heran gan kalau peringatannya kematiannya pun dirayakan gan.

Di sepanjang sisi utara Rizal Park, juga terdapat beberapa landmark seperti Kanlungan ng Sining. Kanlungan ng Sining ini merupakan museum untuk seniman Filipina dan tempat yang dipenuhi kedamaian untuk mereka menyelesaikan karya seninya. Kanlungan ng Sining ini seperti hutan dengan pohon-pohon besar, tanaman, burung, dan serangga di sekelilingnya gan. 
Kanlungan ng Sining.

Selesai mengelilingi taman bagian depan, ane pun bingung harus ngapain lagi haha. Karena hampir semua yang ke taman itu membawa pasangan/keluarga gan. Banyak juga yang menggelar tikar di taman kemudian makan bekal yang dibawa dari rumah. Ane sadar gan, ane merasa sangat kesepian sebagai solo traveler hehe. Akhirnya supaya nggak mati gaya, ane pun naik sepur kelinci seharga 50 peso untuk mengelilingi Rizal Park yang cukup gempor juga kalau harus jalan kaki.
Sepur kelinci dengan tarif 50 peso yang siap mengantarkan ane keliling Rizal Park.

Setelah itu, ane pun berjalan lebih ke timur Rizal Park kemudian memasuki Diorama of Rizal’s Martyrdom dengan membayar 20 peso. Diorama ini berisi diorama Jose Rizal yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal pas sampai eksekusinya gan. Di bagian luarnya, terletak di dinding granit hitam pintu masuk, terdapat pahatan berupa ucapan selamat tinggal Jose Rizal sebelum meninggal dalam Bahasa Inggris dan Spanyol berjudul “Mi Ultimo Adios”. Diorama itu menggambarkan Jose Rizal dieksekusi dengan cara ditembak sekelompok pasukan Spanyol gan. Sebelum ditembak, Jose Rizal diikat tangannya,  dan disuruh berdiri menghadap ke belakang. Mengerikan ya gan.
Ucapan selamat tinggal Jose Rizal di pahatan dinding granit hitam.

Diorama yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal sampai eksekusinya.

Selain beberapa spot menarik diatas, ini dia gan beberapa spot menarik lainnya di Rizal Park, kurang lebih urut dari timur (Kalaw St) ke barat (Museum of the Filippino People):
Chinese Garden.

La Madre Philippine.

Rizal Monument.

Filipino-Korean Soldier Monument

Lapu-lapu monument

Musium of Filipino.

Selesai mengelilingi Monumen Lapu-lapu, ane pun bergegas jalan kaki di Kilometer Zero untuk menuju Museum of the Filippino People. Tapi saat itu ane nggak masuk kesana, karena tujuan selanjutnya adalah Fort Santiago yang konon katanya lokasinya dekat dari sini. Karena tidak mempunyai clue harus jalan kaki kearah mana, ane pun memutuskan naik dokar. Ane tanyakan tarifnya, 30 peso sampai ke Fort Santiago. Okelah ane percaya sama bapak tukang dokar ini.

Sewaktu udah di dokar, ane mulai curiga aja nih, kok jauh banget ya mau ke Fort Santiago aja?? Saat itu si Bapak Dokar terus-terusan saja ngomong kalau dia itu tour guide, gue iya-iyain aja soalnya ane nggak tau maksudnya. Kecurigaan ane semakin bertambah saat dia terus saja menjelaskan dengan cukup detail tentang tempat-tempat yang kita lewati. Sesekali dokar dihentikan oleh dia, dan ane disuruh foto. Selain itu ane juga dibelikan 1 botol minuman air putih dingin. Perasaan ane semakin nggak enak, sepertinya ane kena scam, dia nggak nganterin ke Fort Santiago, malah diputer-puterin keliling kota selama kurang lebih 45 menit.
Patung Raja Felipe, yang menjadi asal muasal nama Filipina.


Gerbang Masuk Chinatown.

Akhirnya di bawah stasiun LRT, tiba-tiba Bapak Tukang Dokar berhenti dan menyuruh ane turun. Jujur ane bingung dan nggak tau apa maksudnya. Sebelum ane turun, tiba-tiba dia menyuruh ane membayar 40 USD!!!

WHAT THE FU*K???

Ane awalnya berpikir positif, mungkin dia salah bilang 14 jadi 40, tetapi sekali lagi dia menjelaskan “FORTHY”. Gue langsung diem mak clep! 40 USD itu berarti kan kurang lebih 1600 peso! Sedangkan di awal sudah ane jelaskan duit ane cuma 3500 peso. Keringat dingin langsung bermunculan aja gan.

Gue yang nggak terima dan merasa dibohongi langsung aja menolak todongan nggak manusiawi ini. Gue pun protes-protes karena dari awal gue sama sekali nggak nyuruh si Bapak muter-muterin gue. Gue juga menyesali kenapa di sepanjang jalan nggak tanya atau protes. Dengan segera ane jawab,

“No, it’s to much. I need to eat to. I can’t live if you ask me 40 USD.”

“No, it’s 40 USD.”

Dia masih aja ngomong sambil cekikikan. Udah rasa mau gue apain aja ni Bapak. Tapi gue pun tetap bersikeras dan menyerahkan dengan paksa 14 USD (700 peso) ke Si Bapak. Dengan terpaksa dia pun menerima uang dari ane, dan ane segera kabur dari si Bapak. Rasanya kayak mau nangis aja gan. Udah uang pas-pasan, masih kena scam 700 peso. Huaaahh, rasanya pengen ada travelmate yang bisa diajak mengeluh sekarang .
Kejadian itu membuat mood ane sesorean berantakan dan nggak berniat kemana-mana lagi. Karena rasa lapar kembali menyerang, ane pun segera mencari warung makanan di bawah stasiun. Tidak lupa supaya tidak kena scam lagi, ane tanya dulu berapa harganya. Saat itu ane makan nasi dengan daging babi kecap seharga 50 peso aja gan. Sebenarnya nggak doyan babi, tapi ane nggak ngerti kalau yang ane makan babi sampai tinggal setengahnya. Karena masih shock dan galau, ane pun makan aja nggak peduli dengan semuanya.

Selesai makan, ane udah nggak punya tenaga ataupun mood untuk keliling lagi gan. Hari juga mulai menggelap. Jujur ane tidak berani berkeliling Manila di malam hari karena menurut beberapa info, tingkat kriminalitas di Filipina itu tinggi gan. Ane pun naik LRT ke Stasiun Querreno, setelah mandi tertidur nyenyak. Dalam hati ane bersumpah, besok ane nggak akan tertipu lagi!! Ane harus kuat!!
»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...