Showing posts with label Mbolang ke Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Mbolang ke Malaysia. Show all posts

Tuesday, 18 August 2015

[3] MALAKA TRIP: Meteran Taksi terus berjalan dengan cepatnya..40RM..45RM..50RM..sementara duit gue tinggal 30 RM. Mati!

Cerita PART 2 disini.

Jantungku terus berdegup kencang..

Mataku terus memandang kotak digital kecil ber-angka itu tanpa berkedip sedikitpun..

Meski tempatku duduk sangat nyaman dan sejuk, bulir keringat mulai berjatuhan..

40..42..44..46..48..50..setiap 100 meter berjalan bertambah 2..

Jalanan kanan kiri adalah tol menuju bandara,

tidak ada kesempatan turun..

Tanganku merogoh kantong,

uangku tinggal 30 ringgit!

Matilah aku!


KUALA LUMPUR, 2 Februari 2013
16.00 waktu Malaysia
              Sesaat setelah turun dari bus Maju yang membawa gue selama 2 jam perjalanan dari Malaka ke Kuala Lumpur, gue sama sekali nggak mendapat firasat bahwa sesaat lagi  akan mendapat kesialan . Sial lagi. Ya, cukup banyak kesialan yang gue dapatkan selama solo trip  pertama gue itu, tapi itu sudah kucatat di buku hitam gue sebagai "things don't ever do it again when traveling".

              Setelah berputar-putar cukup lama, sampailah bus-gue di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur. Meskipun gue sudah beberapa kali ke KL, tapi inilah kali pertama gue menginjakkan kaki di TBS. Menurutku TBS ini sangat bagus dimana interiornya sangat modern sampai modelnya mendekati bandara, petunjuk setiap lokasi jelas, bersih, teratur, rapi dll pokoknya beda jauh lah sama terminal di negara gue tercinta. Sesaat setelah turun, gue segera mencari informasi tentang bus yang berangkat ke Bandara LCCT sore itu. Jarak TBS ini sendiri dengan Bandara LCCT sekitar 64 km.


Kenampakan interior Terminal Bersepadu Selatan yang sudah sangat modern
Sumber: tripadvisor.com

             Saat sedang sibuk mencari informasi bus itu mata gue secara nggak sengaja menangkap sebuah poster yang menyebutkan bahwa ada fast train  yang menghubungkan KL Sentral/Bandar Tasik Selatan dengan LCCT (transfer di Stasiun Salak Tinggi) dengan biaya hanya 10 ringgit. Kesalahanku karena aku nggak mencari informasi ini sesaat sebelum traveling. Saat membaca poster itu, aku tengak-tengok kesana kemari mencari orang yang bisa ditanyai. Itu adalah kesalahan besar karena ternyata ada yang mengincar gue sebagai mangsa penipuan. Huhuhu.

             Pose gue yang seperti orang kebingungan itu memancing perhatian seorang bapak berseragam putih biru yang langsung menghampiriku, singkatnya beginilah obrolan kami,
X  : Mau kemana?
G  : LCCT.
X  : Mari ikut saya.
G  : Kemana? Itu ada fast train ya ke LCCT.
X  : Tidak ada, fast train hanya ke KLIA saja. Sudah ikut saya.

Bodohnya gue percaya! dan supir taksi penipu itu jelas-jelas bohong karena memang ada kereta (transfer bus) yang ke LCCT. 

Saat itu gue berpikiran optimis aja, mungkin dia mau nyariin gue bus atau apa. Gue juga berpikir dia nggak akan mungkin berani macem-macem di tengah keramaian terminal kaya gini. Akhirnya gue pasrah aja ikut dia. Entah kemana pokoknya kami turun sampai ke lantai dasar. *semacam tempat parkiran

Gue akhirnya tersadar dia bukan mau bantuin gue cariin bus atau apa, tapi dia adalah supir taksi a.k.a dia nawarin nganterin gue ke LCCT dengan taksinya. Saat itu gue bersikeras menolak karena duit ringgit di kantong tinggal 30 ringgit, dan itupun sebagian bakal gue buat beli makan di LCCT. Tapi supir taksi penipu ini terus maksa, "Flight kamu tidak akan terkejar, percaya awak! percaya awak!"

PREEETT, padahal waktu itu baru menunjukkan jam 16.30, aku baru bisa check in jam 19.00 karena penerbanganku ke Filipina jam 21.00!

Akhirnya karena menyerah terus dipaksa, gue pun mau naik tapi dengan syarat gue minta diturunin ke KL sentral karena setelahnya gue akan naik bus/kereta dari sana. "Oke", katanya.

Mesin dinyalakan, "DEG!" Argo langsung menunjukkan 6 ringgit. Perasaan gue udah nggak enak aja nih!

Di dalam taksi supir penipu ini masih aja mempengaruhi gue buat langsung ke LCCT aja dengan gaya bahasa yang sangat persuasif, gue yang beberapa kali nolak akhirnya kalah  dan mempersilahkan supir ini bawa gue ke LCCT. Saat itu yang ada di pikiran gue, 30 ringgit itu udah termasuk duit yang banyak. Jadi ya sial-sialnya, gue nggak bisa makan malam ini di LCCT.

Tapi ternyataaa..oh my God, semakin taksi berjalan cepat, argometer berjalan dengan semakin derasnya. Dari 22, 24, 26, 28, 30!!! Mati nggak gue, saat itu badan gue udah lemes dan dipenuhi keringat dingin. 30 ringgit masih menempuh jalan sekitar 13 km ke bandara, mana jalanan kanan kiri seperti tol yang sepii banget -ala jalanan Indonesia kalau mau menuju bandara- sehingga nggak ada pilihan buat gue selain bertahan didalam taksi.

Keringat dingin gue semakin mengucur deras saat argo sudah menunjukkan angka 50 ringgit tapi jarak ke LCCT masih sekitar 40 menit lagi. Gue pun mulai bicara nggak jelas ke supir penipu dengan nada mau nangis.

 G  : "Pak apakah saya bisa diturunkan di sekitar sini saja? Sepertinya uang saya tidak cukup lagi" kata gue dengan muka melas.
 X  : "Tadi bilang punya uang, memang situ bawa uang berapa??"
Gue diem aja, jelas bakal diketawain kalau dia tahu gue cuma punya 30 ringgit.
 G : " Saya kira nggak semahal itu." jawab gue dengan cuek, padahal dalam hati nangis
 X : " Ah bagaimana kamu itu, ini bagaimana, sudah hampir 60 ringgit. Tidak bisa turun disini, nanti diturunkan di Stasiun Putrajaya di depan."

Gue pasrah aja, dalam hati udah nangis-nangis dan nyumpahin kenapa tadi lu bohongin gue tentang fast train, sekarang mungkin ini balasan dari Tuhan, gue bohongin dia balik secara nggak sengaja.

Akhirnya gue diturunin di Stasiun Putrajaya, dan karena duit ringgit tidak cukup terpaksa aku bayar pakai dolar singapore (20 SGD). Penipu ini sempet muni-muni dan menelepon temannya untuk tahu nilai tukarnya, masih sempetnya bilang "Masih kurang 10 ringgit ini, bagaimana?" Dasar, apa nggak tau muka gue udah melas semelas ini, gue pun terpaksa nambahin 5 ringgit lagi. Sebelum pergi, dia sempatnya ketawa-tawa, "Kasian sekali kamu ini." 
Rute fast train
Sumber: lcct.co.my

Akhirnya gue pun ke tempat pembelian tiket fast train  di lantai atas dan membeli tiket cuma seharga 5 ringgit. Dalam hati gue udah menyesal banget kenapa gue nggak naik ini dari awal :( . Keretanya nyaman, luas, ber-AC, cepet banget nyampenya.


Kenampakan fast train yang melayani transportasi ke bandara (KLIA maupun LCCT)
Sumber: wikipedia.org

Ya Tuhaaannn...gue cuma bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya saat akhirnya nyampai di LCCT...

PS: Gue cuma bawa duit sedikit di Kuala Lumpur karena emang nggak berencana jalan-jalan kesini, cuma transit aja dari Malaka sebelum terbang ke Filipina. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup!!


»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...

[2] MALAKA TRIP: Kunci kamar masuk bolongan WC jam 2 pagi, MATI!!

Cerita PART 1 disini.

Cukup puas beristirahat di KFC Mahkota Parade, ane segera berinisiatif untuk mencari lokasi penginapan yang sudah ane sudah booking sebelumnya bernama Backpacker’s Freak Hostel yang beralamat di Jalan PM 2 No.25-3, Plaza Mahkota, Melaka. Ane berhasil menemukan tempat ini setelah bertanya kepada beberapa orang, tempatnya sendiri cukup strategis dan kamarnya berada di lantai dua gan. Pemiliknya engkong-engkong yang kalau sama tamu baikk banget, tapi kalau pas lagi sama pegawainya buseeet dah...galaknyaaa. hahaha. Pegawainya cewek chinese masih seumuran ane juga, dan pas si pegawai nyatet data paspor ane, nggak kehitung deh berapa kali dia kena bentak dari si engkong. Mana bentaknya di depan tamu lagi. Huft kasian. Ane mendapatkan sebuah kamar single room (tapi dengan 2 kasur) dengan tarif 8 USD per malam, dengan sarapan gratis. Ane pun segera merebahkan badan untuk beristirahat. Rencana malam ini ane akan melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Melaka.
Lokasi Friendly Backpacker Guest House cukup strategis karena berada di tepi jalan besar.

Malemnya, dengan kaki yang masih capek dan sakit, ane memaksakan diri bangun untuk menuju Sungai Melaka gan. Sebenarnya males banget dan pengen tidur aja, tapi ane mikir, ini malam terakhir dan satu-satunya di Malaka karena besok pagi udah harus ke KL. Masak ane nggak mau menikmati Sungai Melaka di malam hari, akhirnya ane paksakan diri untuk bangun. Sebelumnya, ane sempat mampir di Bazaar dekat penginapan untuk membeli stop kontak kaki tiga seharga 5 RM dan replika kapal layar Malaka. Bazaar ini sendiri cukup ramai, menjual berbagai macam barang mulai dari barang primer, sekunder, tersier dengan harga terjangkau. Selesai menyusuri bazaar, ane melanjutkan jalan kaki ke Sungai Melaka. Di sepanjang jalan, ane banyak dilihatin orang gan. Yah mereka pikir aneh kali ya, cewek jalan sendirian malem-malem. Wkwkwk, tapi ane berusaha enjoy dan menikmati perjalanan ane ini dengan pikiran optimis.
Suasana Bazaar di depan Jalan PM 2.

Barang yang dijual di Bazaar harganya merakyat dan terjangkau.

Ternyata Sungai Melaka indah banget gan pas malem dengan kilauan lampu-lampu dari bangunan yang berjajar di pinggir sungai. Di sepanjang Sungai Melaka ini ane jumpai beberapa turis spot seperti Kincir Air Kesultanan Melaka, benteng dengan sisa beberapa meriamnya, dan ferry-ferry yang hilir mudik di sungai. Sungai Malaka ini sendiri sangat bersih gan, dan tidak berbau. Ane rasa memang Pemerintah Malaysia sangat sadar gan, bahwa sebagai tujuan favorit turis mancanegara maupun lokal, Sungai Melaka ini harus benar-benar dijaga kebersihannya. 
Meriahnya Sungai Melaka di malam hari.

Sungainya bersih banget gan.

Kincir Air Kesultanan Melaka

Untuk menyusuri Sungai melaka bisa juga naik kapal ferry kecil gan melalui beberapa jeti atau halte di pinggir sungai. Pelancong juga bisa naik ferry ini berulang kali selama 1 hari (dari jam 9 pagi – 9 malam) atau istilahnya Hop Off Hop On dengan sekali bayar. Untuk dewasa dikenakan harga RM30 dan anak-anak RM15. Tapi ane memutuskan tidak naik karena antrian yang terlalu panjang dan menurut ane menikmati Sungai melaka dari pinggir sudah cukup gan. Salah satu yang khas juga dari Malaka adalah kehadirna becak lampu gan. Becak-becak disini terkenal sangat menarik dan meriah, dimana keseluruhan badan becak akan dihiasi dengan lampu, bunga-bunga dan musik yang meraung dengan keras. Tapi ane nggak naik becak ini karena konon katanya sejam ditarif 40 RM. Ane paling anti sama yang mahal-mahal hahaha. Mending naik becak entar di Indonesia aja kalau sudah pulang cuma 15ribu wkwkwk.
Becak disko warna-warni khas Melaka.

Selesai menyusuri Sungai Melaka ane melangkahkan kaki ke bazaar di Jonker St di Chinatown. Jonker St. ini merupakan jantung pemukiman Malaka Tua yang ada di barat Sungai Malaka gan. Terdapat banyak rumah-rumah indah, toko kecil, kuil, serta masjid. Salah satu jalan di daerah ini bernama Jalan Harmoni disebut demikian karena terdapat rumah doa dari tiga agama utama Malaysia - kuil Cina Cheng Hoon Teng , Sri Poyatha Vinayagar Moorthi Candi Hindu , dan Masjid Kling kampung . 
Suasana Jonker St. di malam hari.

Bazaar di sepanjang Jonker St.

Saat itu suasana di Jonket St. sangat ramai gan karena ada pertunjukkan juga semacam bela diri campur humor dari Thailand. Ane berjalan-jalan sejenak dan kebanyakan barang yang dijual itu adalah makanan dan minuman, hiasan imitasi dan baju.
Replika Kapal Laksamana Ceng Ho.

Salah satu hal yang menarik juga di Jonker St itu ya terdapatnya replika kapal laksamana Ceng Ho gan. Replika ini dibuat untuk memperingati Ulang Tahun Pelayaran Laksamana Cheng Ho ke 608. Laksamana Cheng Ho ini namanya tertuang dalam sejarah Malaysia karena merupakan orang yang membuka jalan hubungan diplomatik antara Melaka dan China pada abad ke 15.

Jam 9 malam, akhirnya ane memutuskan pulang ke penginapan karena sudah puas menjelajah Sungai Melaka dan Jonker St gan. Menurut ane, memang sangat recommended mengunjungi kedua kawasan ini di malam hari karena perpaduan kerlipan lampu akan menjadikannya lebih indah. Saat perjalanan pulang dan kembali melewati Muzium Seni Bina Malaysia, jalannya udah gelap buanget gan dan ane sempat merinding kalau sampai jadi korban kekerasan. Tapi untunglah bisa kembali ke penginapan dengan selamat.
Malam itu entah kenapa walaupun badan terutama kaki sangat capek, ane nggak ngantuk sama sekali. Akhirnya malah jam 2 kurang ane memutuskan untuk mandi karena hawa yang cukup panas, tidak lupa penginapan ane kunci dong ya. Soalnya harta benda ane disitu semua, termsuk paspor dan uang.

Sampai kamar mandi, semuanya berjalan lancar gan. Ane taruh kunci di atas tumpukan pakaian di atas flusher. Dan sewaktu ane mau memindahkan pakaian itu ke tempat yang lebih kering, tebak dong ya......................................................................................................

     KUNCINYA MASUK KE BOLONGAN WC!!!

“Kluntinggg...duerrr...jroooot...shhhhh....ahhhhh”

Ane masih merasa itu mimpi dan tidak mau percaya apa yang ane baru saja lihat dan dengar. Sumpah ane langsung melongo memandangi itu lubang WC lama banget. Apa yang terjadi barusan itu kenyataan???

Setelah ane mencubit lengan dan kerasa sakit, ane baru sadar bahwa kunci ane yang barusan masuk ke lubang WC itu barusan KENYATAAN!! HUAAAAAA! Bagaimana ini? Sekarang udah menunjukkan jam 2 kurang, dimana si Engkong mengatakan resepsionis tutup jam 12 malem, terus engkongnya galak banget, terus semua uang dan paspor ane disitu, terus ane bobok dimana? Huaa, ane masih inget ane sempat nangis di kamar mandi. Berharap bolongan WC nya itu bolongan WC kayak di Indonesia yang ada airnya, tapi disini bolongan Wcnya itu bolongan WC tak berujung dan gelap itu gan , yang gak jelas eeknya jatuh kemana. Mungkin kunci ane udah tenggelam di tumpukan eek-eek orang dari berbagai negara hauaaa.

Dengan langkah gontai dan pesimis ane pun langsung mandi dengan cepat dan naik ke resepsionis. Ane TAKUT banget gan, apalagi sama engkongnya. Secara ane baru beberapa jam disini udah ngilangin kunci, huaaa apa kata mereka nanti? Gimanapun ane harus bisa dapat kunci.

Di resepsionis, entah keajaiban apa mereka masih buka gan walau lampunya sudah dimatikan. Dengan menahan malu yang sudah di ubun-ubun ane menjelaskan kalau ane kehilangan kunci karena jatuh di toilet, dan untungnya si engkong nggak marah. Yaiyalah, kalau marah ma tamu pasti takut kan kalau hostelnya dapat review jelek. Si engkong hanya mengatakan besok ane harus membayar 10 RM untuk kuncinya, dan akhirnya ane diberikan kunci baru oleh si pegawai. Hwahhhh lega 
.
Keesokan harinya keadaan ane sudah jauh lebih baik gan setelah tragedi”kunci masuk lubang WC” yang ane alami kemarin. Setelah check out dan membayar denda kunci, ane segera melangkahkan kaki di jalanan Kota Malaka di pagi hari yang terlihat indah dan sepi. Di Malaka ini memang banyak terdapat taman-taman kota gan dengan berbagai tanaman bunga diatasnya sehingga menjadikan kota ini menarik. Ane juga sempat menfoto Menara Taming Sari yang lokasinya cukup dekat dengan penginapan ane. 
Di Kota Melaka ini banyak taman cantik gan.

Menara Taming Sari ini merupakan menara setinggi 80 meter yang terletak di Jalan Merdeka, Banda Hilir, dengan panorama 360 derajat selama 7 menit kita akan melihat keindahan Melaka dari atas menara ini. Tiket masuk seharga RM 20 untuk dewasa dan RM 10 untuk anak-anak (dibawah 12 tahun).

Saat itu ane sarapan di sebuah food court kaki lima gan dengan penjualnya ibu-ibu yang ramah banget. Seneng banget ane gan ketemu ibu ini, karena dia memperlakukan customernya dengan sangat baik. Saat itu ane sarapan nasi dan rawon dengan biaya hanya 4RM, murah enak dan halal. Selesai makan dan beristirahat sejenak, ane segera melangkahkan kaki kembali ke Dutch Square untuk naik Bus Panorama Melaka No 17 kembali ke Terminal Malaka. Ane memang berencana akan ke Kuala Lumpur hari ini, karena penerbangan ane ke Filipina adalah malam ini jam 19.00. Setengah jam perjalanan dengan bus akhirnya sampai juga di Terminal Malaka, ane segera membeli tiket bus ke KL seharga 12 RM dan menunggu dengan hati bahagia. Goodbye, Malaka! I'm ready to go to Philipphine!!

Bersambung ke PART 3 disini.

»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...

Thursday, 13 August 2015

[1] MALAKA TRIP: Dari Dutch Square sampai A Famosa, jalan terus!

Menempuh perjalanan selama 30 menit dengan bus SBS, ane pun sampai di Terminal Larkin di Johor Bahru. Pemandangannya cukup kontras juga ya setelah 3 hari di Singapura. Terminal Larkin ini mirip dengan Indonesia, banyak warung-warung kelontong dan loket-loket yang menjual tiket bus. Saat itu langsung aja ane beli snack, air rasa sama burger 3RM gan. Seneng banget rasanya bisa nemu makanan-makanan murah lagi setelah di Singapore nggak berani beli apa-apa. Saat itu ane naik bus Maju seharga 21 RM dari Johor Bahru ke Malaka. Bus-nya nyaman banget gan. Kursinya luas dan kebetulan saat itu bus hanya berisi sedikit penumpang sehingga perjalanan selama 4 jam ke Malaka menjadi tidak terlalu berasa lama.

Loket penjual tiket bus di Terminal Larkin, Johor Bahru

Interior Bus Maju yang membawa ane 4 jam perjalanan ke Malaka

Sampai di Terminal Malaka, dan lagi-lagi jajan minuman berasa, ane pun segera naik bus Panorama Melaka nomor 17 dari samping terminal dengan tarif 2RM untuk sampai di kawasan wisata utama di Malaka yaitu Christ Church atau orang-orang biasa menyebutnya Dutch Square. Naik bus Panorama Melaka nomor 17 ini adalah alternatif termurah untuk menuju kawasan Christ Church Malacca, dimana jika naik taksi akan dikenakan tarif sekitar 20 RM.
Tempat naik Bus Kota 17 untuk ke Dutch Square

Menurut ane Malaka itu sejenis kota tua yang mempunyai nilai sejarah tinggi gan. Sepanjang perjalanan dengan bus ane banyak melihat gedung-gedung tua peninggalan Portugis, Belanda maupun Kesultanan Melaka yang masih berdiri dengan anggunnya. Pada zaman kependudukan Bangsa Eropa, Malaka merupakan salah satu kota yang cukup penting gan untuk pangkalan maupun lalu lintas perdagangan karena lokasinya yang strategis terletak antara 2 benua dan 2 samudra. Akhirnya ane pun turun di Christ Church dan memulai petualangan menjelajah kawasan ini. Saat itu suasana cukup ramai gan. Kawasan ini memang banyak digunakan oleh wisatawan untuk bersantai karena suasana yang cozy dan banyak pepohonan sehingga suasana sejuk.
Suasana sekitar Dutch Square yang terkenal itu gan...

Saat itu bangunan yang pertama kali ane kenali adalah Christ Church Malacca gan karena sering lihat di internet. Senang banget rasanya bisa melihatnya secara langsung sekarang. Gereja yang dibangun antara tahun 1741-1753 ini merupakan gereja protestan tertua gan di Malaysia. Gereja ini dibangun menggantikan gereja Portugis yang dihancurkan. Biasa kan gan, Belanda ama Portugis emang daridulu kerjanya rebutan tempat jajahan melulu. Bahkan, saking seriusnya Belanda ingin memiliki Malaka, mereka sampai mendatangkan batubata untuk pembangunan gereja dari Zeeland (Belanda) langsung gan. Pada bagian lantai gereja akan ditemukan kuburan batu orang Belanda. Pada bagian altar akan terlihat barang-barang sakramen dari perak. Buka hari Senin sd Sabtu pukul 8.30 am – 5 pm. FREE. Dilarang memotret di dalam ruangan. Tapi saat itu ane nggak masuk gan.

Disamping Christ Church, ane melihat juga Galeri Seni Lukis Melaka yang dibangun pada 1951 oleh Belanda. Struktur bangunannya sendiri mirip dengan Christ Church. Selain itu terdapat juga Stadhuys. Bangunan yang merupakan tiruan Stadthuys (town hall) dari Kota Hoorn yang ada sejak tahun 1420-1796. Bangunan ini selesai dibangun tahun 1660. Sekarang digunakan sebagai Museum Sejarah dan Etnografi. Merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda paling tuaFee: 5 RM.
Air Mancur Queen Victoria

Menara Jam Tang Beng Swee

Selain bangunan peninggalan Belanda, disepanjang Dutch Square ini juga terdapat landmark peninggalan pemerintah Inggris juga gan seperti Air Mancur Queen Victoria yang dibangun pada 1904.  Selain itu terdapat juga Menara Jam Tang Beng Swee yang dibangun tahun 1886. Jadi bisa dikatakan di Dutch Square ini kita bisa melihat sejarah Malaka dalam lingkup kecil gan dari peninggalan-peninggalan bangunannya. Bangunan peninggalan Belanda dan Inggris sendiri mempunyai perbedaan yang cukup jelas gan dari warna serta struktur bangunannya. Di sepanjang Dutch Square ini juga banyak dijumpai pedagang-pedagang souvenir gan dengan harga yang cukup terjangkau. Tapi hati-hati saja karena disini kawasan turistik, udah pasti harganya dinaikkan berkali-kali lipat, harus pintar menawar aja gan.
Penjual souvenir di Dutch Square

Selesai menjelajah Dutch Square, ane menyeberang untuk melihat benteng yang ada di pinggir Sungai Melaka. Untuk masuk ke benteng ini gratis dan diatas terdapat beberapa meriam yang berjajar rapi menghadap ke segala arah. Hmmm, ane bisa bayangkan bagaimana perjuangan bangsa Eropa untuk saling memperebutkan Kota Malaka ini. Selesai menikmati benteng ini, ane pun memutuskan akan ke  A Famosa dan menikmati Sungai Melaka nanti malam.
Benteng di depan Dutch Square

Meriam yang siap mengarah ke segala arah

Dalam perjalanan ke A Famosa, langkah ane sempat terhenti di sebuah museum sederhana namanya Muzium Seni Bina Malaysia gan atau istilah gampangnya Museum Arsitektur Malaysia. Ane tertarik masuk museum ini karena ada kata-kata gratis/free entry di depannya hahaha. Penjaganya seorang ibu-ibu yang cukup ramah. Musium ini sendiri dibangun oleh Belanda pada 1700 selama masa pendudukan mereka di Malaka. Musium ini dibuka untuk umum pada 2004.
 Sejarah Arsitektur Malaysia

 Sejarah Arsitektur Malaysia (2)

Diorama yang menampilkan proses pembangunan rumah di Malaysia

Berbagai peralatan tradisional

Muzium Seni Bina Malaysia ini terdiri dari dua bagian gan, yaitu lantai bawah dan lantai atas. Lantai bawah berisi pengenalan tentang seni bina, sejarah perkembangan arsitektur Malaysia serta arsitektur dan kepercayaan. Sementara lantai atas berisi tipologi, ukir-ukiran dan motif, peralatan dan teknologi serta material.

Disamping Muzium Seni Bina Malaysia sebenarnya ada Museum Islam Malaka yang bisa dikunjungi dengan gratis juga, tapi sayang lagi tutup. Musium ini merupakan bekas pondokan Dewan Islam Malaka sebelum pondokan tersebut dipindahkan ke lokasinya sekarang disamping Masjid Malaka. Musium ini sendiri memamerkan seni Islam tradisional dari hasil keahlian masyarakat lokal maupun internasional. Terdapat 8 area pameran utama yang disusun secara kronologis terkait masuknya Islam ke Malaka dan penyebarannya sesudahnya ke seluruh Malaysia. Musium ini buka dari jam 9.00 am sampai 5 pm.
Musium Islam Malaka

Selesai memutari seluruh bagian museum, ane melanjutkan perjalanan ke A-Famosa. Dari Dutch Square ke A Famosa ini sendiri dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 500 meter. Tapi di jalan lagi-lagi langkah ane terhenti di sebuah Taman Permainan Kanak-Kanak dengan beberapa spot foto yang menarik gan seperti kereta api dan pesawat terbang. Sebelum belokan ke A Famosa terdapat satu bangunan yang menarik di sebelah kiri jalan yaitu Bastion House/Musium Dunia Melayu Dunia Islam.

Taman bermain anak-anak

Akhirnya sampai juga di A Famosa gan. Saat itu suasana cukup ramai dan banyak penjual kaki lima disana-sini. A Famosa sendiri adalah benteng yang dibangun saat pendudukan Portugis gan, terletak di kaki  Bukit St Paul, jadi bisa ditebak jalannya kesini naik. Bangunan ini hancur saat peperangan, tapi masih dapat dilihat bentuk pintu masuknya. Saat itu ane masuk lewat Pintu Gerbang Santiago yang merupakan salah satu dari empat pintu masuk ke A Famosa. Mulai dibangun pada 1512 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque yang menduduki Malaka sejak 1511. Alasan Alfonso de Albuquerque sendiri membangun benteng ini adalah karena dia dan tentara Portugis sering diserang gan oleh pemberontakan lokal Sultan Mahmud dan kemudian oleh Aceh dan Johor selama lebih dari seabad.
Pintu Gerbang Santiago

Pemandangan Kota Malaka dari Bukit St Paul

Selesai membangun A Famosa, ternyata Portugis juga menggunakan buruh paksa gan untuk membangun kota selebar 3 meter mengelilingi Bukit Malaka dengan menggunakan sisa reruntuhan istana, masjid dan makam-makam. Selain itu menara pengawas setinggi 40 meter pun ikut didirikan di penjuru tembok barat Kota Pertahanan Malaka.
Saat Belanda mengambil alih Pemerintahan Portugis di Malaka pada 1641, mereka memperbaiki dan menambah luas Kota Pertahanan Malaka yang telah susah-susah dibangun oleh Portugis dan meletakkan lambang VOC disitu. Perbaikan sendiri dimulai tahun 1670.
Ini dia gan bagian dalam Pintu Gerbang Santiago

Karena harus kembali ke negaranya, Belanda sempat menitipkan Malaka ke Inggris. Tahun 1795, saat Inggris menguasai Malaka, mereka hampir saja memusnakan A Famosa gan karena kuatir benteng ini akan disalahgunakan oleh Belanda saat Melaka akan diserahkan ke Belanda lagi. Disalahgunakan disini maksudnya benteng ini akan digunakan untuk menghimpun kekuatan lagi. Pada tahun 1807, William Farquhar, Residen Inggris di Melaka benar-benar menghancurkan kota ini dengan ubat bedil. Ulah itu langsung dihadang oleh Sir Stamford Raffles dan Lord Minto yang meminta supaya kota ini tidak dimusnahkan, tapi bagaimanapun juga sampai sekarang hanya tersisa Pintu Gerbang Santiago saja.
Nisan anak Belanda di bagian dalam Pintu Gerbang Santiago

Ane pun melanjutkan perjalanan ke atas untuk melihat sisa benteng peninggalan Portugis ini dengan lebih detail. Pada bagian dalam Pintu gerbang sendiri hanya tersisa sebuah bangunan usang sisa kejayaan pada masa lalu gan. Pada bagian dalam bangunan ane sempat jumpai batu nisan anak Belanda gan. Pemandangan dari atas sini sangat indah karena kita bisa melihat Kota Malaka serta Selat Malaka dari atas. Kurasa itulah alasannya kenapa Portugis membangun benteng ini di Bukit St.Paul, supaya mereka bisa mengawasi segalanya dari atas gan. Sejarah kependudukan Malaka di tangan Portugis, Belanda, Inggris dapat dipahami dengan jelas dari beberapa papan yang mengisahkan sejarah tempat ini dengan cukup detail.

Pemandangan Kota Malaka dari Bukit St.Paul

Pada bagian paling atas, terdapat gereja dan Patung Stamford Raffles yang menandakan Inggris sempat menguasai Malaka sejenak. Patung Raffles ini dibangun menggunakan batu putih, kontras dengan bebatuan usang di sekitarnya.
Sir Stamford Raffles

Selesai menjelajah Pintu Gerbang Santiago sampai bagian atas, kaki ane kembali merasa sangat lelah gan dan akhirnya memutuskan duduk-duduk di kursi taman Bukit St.Paul. Saat itu ane kembali merasa benar-benar kesepian lagi gan. Ane benar-benar butuh travelmate, terutama setelah melihat kebanyakan yang datang kesitu berkeluarga atau bersama teman-temannya gan, terus cekikikan, foto bareng, hehehe. Menurut ane, pemerintah Malaysia sangat bagus dalam merawat peninggalan sejarah ini gan. Hal tersebut dibuktikan dengan pemberian informasi dalam bentuk papan untuk setiap spot sehingga kita bisa benar-benar mengerti sejarahnya dengan baik.

Di sekitar A Famosa sendiri sebenarnya masih terdapat beberapa tempat wisata yang lain gan seperti Memorial Pengistirahatan Kemerdekaan. Memorial berbentuk bangunan ini pada awalnya merupakan Malacca Club yang dibangun pada 1911, dimana arsitekturnya menunjukkan khas lokal dan Inggris. Bangunan ini dipilih sebagai memorial karena lokasinya yang berada di depan Padang Banda Hilir Malaka, tempat YTM Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj pada 20 Februari 1956 mengumandangkan kemerdekaan Malaysia sekembalinya Rombongan Merdeka dari London. Selain itu di depan Memorial Pengistirahatan Kemerdekaan ini, kita bisa menjumpai spot foto lainnya seperti replika kapal layar gan.
Memorial Pengistirahatan Kemerdekaan

Kapal Layar

Setelah  beristirahat sejenak dan mempelajari peta Malaka yang ane bawa dari rumah, ane memutuskan akan menuju Dataran Pahlawan. Setelah menanyakan tempatnya kepada 2 orang mas-mas yang sedang bersantai di pinggir jalan, ane pun sampai di Dataran Pahlawan dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter. Menurut ane tidak ada yang spesial dari Dataran Pahlawan, hanya sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh tempat-tempat perbelanjaan. Di sekitar Dataran Pahlawan ini banyak dijumpai warung-warung kaki lima gan. Karena kaki kembali merasa sangat kelelahan, ane memutuskan mampir di KFC dulu di Mahkota Parade, walau sebenarnya perut tidak terlalu lapar. Ane harus menimbun energi, bersiap jalan kaki kembali untuk petualangan selanjutnya malam ini, Sungai Malaka!
Suasana sekitar Dataran Pahlawan

Bersambung ke Part 2 disini.

»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...

Tuesday, 2 June 2015

Pola Pikir Backpacker ~ Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Hidup backpacker!!! Hehehe

Tak terasa, sudah 4 tahun ane menyukai dan mencintai dunia backpacking. Dunia yang sangat menyenangkan, membuat ane mengerti arti hidup, membuat ane mempunyai tujuan serta mimpi-mimpi yang harus ane penuhi. Dari pelajaran di lapangan pas backpackeran ini, tanpa sadar ane mendapatkan pola pikir serta karakter di bawah ini gan. Pola pikir dan karakter yang ane tidak miliki sebelum kenal dunia backpacking. Bahkan di kehidupan sehari-hari, pas ane lagi nggak backpackeran, pola pikir dan karakter itu juga dengan sendiri teraplikasi. Ini dia gan:

1.       Nggak suka beli barang mahal kalau bukan untuk keperluan traveling
Nah ini dia gan yang ane paling rasain. Kalau untuk keperluan traveling, ane tu nggak segan, nggak eman, beli barang mahal. Yah mahalnya mahal standar ane ya, maks 350ribu buat tas ransel, maks 150ribu buat sepatu sneakers buat jalan haha. Karena ane pikir, “kalau ada yang murah kenapa harus mahal?”, “kalau ada yang gratis kenapa harus bayar?”. Tapi yang namanya beli barang untuk hal yang lain gan, misal sepatu buat kerja, baju buat kerja, ane rela beli diskonan yang murah aja di Plaza Blok M. Hahaha.

2.       Nggak suka beli makanan mahal
Saat backpackeran, apalagi di negara modern, salah satu yang paling ane tekanin untuk dihemat itu ya makan gan. Biasanya ane bawa pop mi, abon dan energen entah buat sarapan maupun makanan utama. Jadi nanti tinggal beli nasi aja. Kalaupun harus beli makan, biasanya ane pilih yang udah ada list harganya gan. Jadi ane bisa ngira-ngira bakal habis berapa. Nah prinsip ‘menghemat makan’ di backpackeran inilah yang membentuk karakter ane “nggak suka beli makanan mahal”. Tentu aja kalau pakai duit sendiri ya nggak sukanya, kalau dibeliin ma, mau makanannya jutaan juga ane mau hahaha.

Prinsip ini benar-benar teraplikasi waktu ane udah kerja si gan, ngekos di Jakarta. Widih, kalau lagi di kantor itu makan mahal gan apalagi kawasan Sudirman. Sekali makan kalau nggak ati-ati bisa habis 20-30ribu. Temen ane beli Soto Padang kena 30ribu. Males banget kan? Makanya ane selalu bawa bekal gan kalau ke kantor. Masak nasi di kos, lauknya beli di warung solo depan kos 3rebuan hahaha. Bukannya menyiksa diri, ane bisa beli, tapi entah kenapa sayang duit. Mending duitnya ditabung buat beli motor (target dekat ane supaya bisa travelingan seputar Jakarta), atau buat traveling itu sendiri.

3.       Bawa botol minum
Pas backpackeran, ane tu selalu bawa botol minum gan. Tujuannya apa? Ya ngirit. Apalagi donk hahaha. Jadi dengan bawa botol minum kan bisa refill gan. Misal di Singapore itu di Bandara Changi ada refill gratis, airnya dingin lagi seger banget. Kalau nginap di hostel/guest house biasanya ada air minum gratis juga gan untuk refill. Lumayan kan daripada setiap haus beli. Iya kalau murah, kalau di Singapore 1 botol air minum itu 1 sgd (9rebuan). Males kan? Hahaha.

Prinsip ini juga teraplikasi gan. Pas kuliah dulu di Jogja ane hampir selalu bawa botol minum. Kalau udah kebelet haus banget aja ane lagi mampir indomaret beli minuman rasa. Demikian juga pas kerja sekarang gan. Ane selalu bawa botol minum karena di kantor ada dispenser. Biasanya sebelum pulang ane penuhin juga botol minum ane, buat sangu di jalan pulang. Jalanan Jakarta keras gan, 5 kilo aja bisa 1,5 jam karena M.A.C.E.T jadi ya butuh bekal juga di jalan.



4.       Suka sesuatu yang gratisan
Dulu, sebelum mengenal dunia backpacking, ane memandang keluar negeri itu hanya sebagai mimpi gan. Tapi semenjak mengenal dunia backpacking, apalagi ada promo Air Asia bertebaran, ane memandang backpacking itu sebagai masa depan gan. Ane yakin kini backpacking bukan sekedar gaya hidup masyarakat menengah ke atas aja. Tapi semua bisa menikmatinya.

Ane masih ingat beberapa kali mendapatkan tiket super murah, bahkan ada yang Rp 0. Seinget ane, ane 3x pernah mendapatkan tiket Rp 0 gan. Yaitu dari Bandung ke Singapura, Jogja ke Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur ke Krabi. Gratisan yang lain itu kalau meraup brosur-brosur maupun peta dari bandara gan, refill air minum, ambil penginapan yang udah termasuk breakfast. Karakter ane ini teraplikasi di kehidupan nyata gan. Sekarang ini, ane suka banget kalau ada yang namanya promo

5.       Pengen wirausaha supaya bisa memiliki kebebasan waktu dalam traveling
Salah satu hal yang dikeluhkan para traveler adalah uang dan kebebasan waktu. Kita merasa, jika traveling pada masa kuliah (pas liburan semester maupun semester akhir), maka akan banyak watu, tapi nggak ada uang. Tapi jika traveling pas kerja, ada uang tapi nggak ada waktu. Hal inilah yang mendorong kita para traveler untuk memutar otak, apa yang bisa dilakukan supaya bisa punya uang dan waktu? Rahasianya ada di wirausaha.

6.       Menghargai adat dan budaya daerah/tempat lain, meskipun itu adat/budaya paling aneh sekalipun.
Seorang traveler, apalagi yang kawakan, tentu saja akan sudah melihat banyak hal di luar kebiasaan. Contohnya jika ke India akan melihat orang mandi di Sungai Gangga, melihat sapi-sapi klekaran di tengah jalan, melihat ular kobra menari-nari jika dimainkan beberapa nada dengan seruling, di Toraja melihat orang dimakamkan di batu dengan biaya mencapai puluhan juta, di Thailand melihat upacara pembersihan diri dengan cara membaringkan diri di peti mati, dan lain-lain. Semua hal yang kita lihat itu tentu saja akan membuka pikiran kita para traveler gan, dan pastinya kita akan menjadi manusia yang bisa menghargai budaya dari daerah lain.

7.       Suka Nulis atau merangkai foto
Dalam rangka mengenang perjalanan yang pernah ane lakukan, atau ekstrimnya dalam rangka pamer, ane jadi senang nulis ataupun merangkai foto gan sejak terjun ke dunia travelling. Ane merasa, dengan tulisan itu ane akan selalu bisa mengenang perjalanan ane.

8.       Sok fotografer
Dengan travelling, otomatis kita akan menjumpai beberapa bangunan ataupun pemandangan spektakuler yang kita Cuma sering lihat di internet kan gan. Saat melihat bangunan/pemandangan yang spektakuler tersebut, tentunya kita ingin mendapatkan foto yang sebagus dan semenarik mungkin. Sikap traveler ini juga terbawa di kehidupan sehari-hari gan, jadi sok fotografer gitu.



»»  BACA SELANJUTNYA YA SOBAT...